<![CDATA[HANIFA ISLAMIC SCHOOL Teguhkan Dengan Tauhid, Muliakan Dengan Al-Qur'an - Guru Teladan]]>Tue, 01 Dec 2020 02:59:14 +0700Weebly<![CDATA[Menjadi Guru yang Bisa Mengambil Perhatian Siswa]]>Fri, 20 Apr 2018 09:47:08 GMThttp://hanifaislamicschool.sch.id/guru-teladan/menjadi-guru-yang-bisa-mengambil-perhatian-siwa
​Menit-menit pertama dalam proses belajar adalah waktu yang terpenting untuk satu jam pembelajaran selanjutnya. Jika seorang guru pada kesan pertama masuk kelas tidak menjadi pusat perhatian, maka selama proses mengajar, dia tidak akan diterima dan diperhatikan oleh murid-muridnya.

Betapa sedihnya hati seorang guru ketika dia tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari kebanyakan siswanya. Apalagi guru pemula, biasanya mereka sering tidak mendapatkan sambutan di dalam kelas.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa ada guru yang dari awal pembelajaran sampai akhir jam pelajaran, dia sering kali dicuekin oleh siswa? Bahkan kebanyakan siswa tidak mengerti apa yang sedang dijelaskan oleh dirinya.

Ada sebuah teori psikologi belajar yang disebut dengan Apersepsi, teori ini memiliki konsep bagaimana caranya merebut perhatian siswa sehingga mereka nyaman belajar dan mengasyikan. Orang yang pertama kali mengenalkan istilah  Teori Apersepsi adalah Seorang psikolog yang berasal dari Jerman, Johan Friedrich Herbart (1776-1841). Dia memaparkan istilah Apersepsi dengan sangat jelas.

“Manusia adalah makhluk pembelajar. Sifat dasar manusia adalah memerintah dirinya sendiri, lalu melakukan reaksi atau bereaksi terhadap instruksi yang berasal dari lingkungannya, jika dia dibekali oleh dorongan atau rangsangan (stimulus) khusus.”

Pertama, Manusia Adalah Makhluk Pembelajar
Setiap individu merupakan makhluk pembelajar dalam semua aspek kehidupan, dari hal terkecil sampai hal terbesar. Jika seorang guru mengerti konsep ini, tentu dia akan menganggap semua siswa sebenarnya siap untuk menerima pelajaran. Asalkan dia mengerti bagaimana cara menyampaikan materi pelajaran. Yang terpenting adalah setiap guru harus yakin bahwa setiap siswa memiliki niat yang baik untuk belajar.

Maka cara yang tepat untuk menimbulkan rasa ingin belajarnya yaitu dengan apersepsi, yakni dengan memancing rasa penasarannya. Menimbulkan rasa penasaran dan minat belajar bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, bisa dengan cerita motivasi, mempersiapkan bahan-bahan pendukung materi (Teaching Aids), atau dengan stimulus rangsangan untuk memotivasi anak supaya mau belajar.

Kedua, Sifat Dasar Manusia untuk Memerintah Dirinya Sendiri.
Banyak guru yang berusaha mengintruksikan sesuatu kepada siswa-siswanya, namun tidak sedikit murid yang mengacuhkannya bahkan cenderung malas melakukannya, tidak bersemangat, dan tidak bergairah.

Sebenarnya setiap anak mampu memerintah dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu, asalkan pembimbing/guru memberi rangsangan dan kualitas informasi yang tepat. Seorang guru haruslah bisa memancing kesadaran siswa untuk mau belajar, dengan kesadaran ini maka siswa bergerak menurut apa yang dia anggap berdampak positif untuk kehidupannya.

Ketiga, Manusia Bereaksi terhadap Intruksi yang Berasal Dari Lingkungannya, Jika Dibekali Dorongan (Stimulus) Khusus.
Ada banyak factor untuk menjadikan siswa semangat belajar, salah satunya yaitu dengan Stimulus atau rangsangan motivasi. Dalam tahap ini seorang guru harus sudah menguasai kelas dan diberikan hak mengajar oleh siswanya di dalam kelas. Setelah kondisi kelas kondusif atau berada pada Zona Alfa maka strategi selanjutnya adalah memberikan motivasi dan rangsangan sebelum memulai materi.

Sebagai contoh, seorang guru bernama Pak Budi mengajar mata pelajaran Matematika SMP. Dia tahu bahwa materi pada hari ini cukup sulit, sehingga dia mencari cara bagaimana siswa-siswanya tetap semangat belajar. Pak Budi membawa kamera digital untuk keperluan rekam video pada saat anak-anak belajar.

“Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang Segitiga dan Teorema Phytagoras. Materi ini sangat mudah sekali karena saya mempunyai rumus yang sederhana. Kalian pasti bisa mengerjakannya. Nah, selama belajar, kalian akan bapak rekam dengan video, kemudian bapak akan upload ke Youtube, pasti banyak yang akan melihat kepandaian kalian dalam matematika dan kalian akan dikenal oleh siswa-siswa sekolah lain. Bagaimana, Kalian setuju?” kata Bapak Budi dengan sangat semangat.

“setujuuuuuuu” sahut siswa-siswa SMP tersebut.

Strategi bapak Budi ini disebut dengan Apersepsi, merangsang anak agar bersemangat belajar.

Apersepsi Dalam Quantum Teaching

TANDUR : Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan.

Tumbuhkan : aktifitas yang melibatkan siswa. Guru ikut serta dalam proses belajar untuk saling memahami dan memuaskan siswa dengan konsep AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku).

Alami : aktifitas memberikan pengalaman bagi siswa dengan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah.

Namai : aktifitas penamaan yang memuaskan hasrat alamiah otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan.

Sumber-Sumber Apersepsi

1. Zona Alfa 
Zona Alfa adalah kondisi dimana otak bisa berfikir secara rileks dan menyenangkan sehingga bisa menerima materi pelajaran secara maksimal. Zona Alfa adalah kondisi yang sangat ampuh untuk menerapkan Apersepsi kepada siswa.

2Cara Masuk Ke Zona Alfa

Lalu bagaimana caranya agar seorang siswa bisa kita giring kepada kondisi Zona Alfa? Ada beberapa hal yang bisa digunakan, diantaranya adalah Fun Story, Ice Breaking, dan Brain Gym.Fun Story, seorang guru bisa mempersiapkan cerita lucu untuk awal masuk kelas sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Tujuannya adalah membuat mereka tertawa dan focus konsentrasi mereka tertuju kepada guru tersebut.

Ice Breaking, Seorang guru ketika melihat kondisi kelas tidak kondusif, seperti ngantuk, lelah, rebut, bising, dll, maka dia harus melakukan Ice Breaking, yaitu sebuah kegiatan awal pembelajaran yang seru yang bisa memancing siswa berbaur mengikutinya, bisa games, senam, dan lain-lain. Tujuannya agar anak kembali segar dan focus.

Brain Gym, atau biasa dikenal dengan senam otak. Ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satu contohnya adalah gerakan berlawanan antara tangan kanan dan tangan kiri kemudian gerakan itu dijalankan dengan tangan bergantian. Hal ini dilakukan untuk melatih focus dan konsentrasi.

3. Warmer
Warmer atau pemanasan adalah pengulangan materi yang sebelumnya diajarkan oleh guru. Metode ini bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan games pertanyaan, penilaian diri, pertanyaan berantai, dan lain-lain.

4. Pre-Teach
Pre-Teach adalah aktivitas yang harus dilakukan sebelum aktivitas inti pembelajaran. Contohnya menjelaskan prosedur cara menggunakan alat-lat lab.

5. Scene Setting
Scene Setting adalah aktivitas yang dilakukan guru atau siswa untuk membangun konsep awal pembelajaran. Contoh Scen Setting adalah dengan cara cerita imajinatif. Aktivitas pembelajaran dengan cerita khayalan atau nyata yang menarik minat siswa untuk masuk ke materi belajar.
 
Dikutip dari buku “Gurunya Manusia” Munif Chatib
]]>