<![CDATA[HANIFA ISLAMIC SCHOOL Teguhkan Dengan Tauhid, Muliakan Dengan Al-Qur'an - Smart Parent]]>Thu, 15 Apr 2021 08:08:25 +0700Weebly<![CDATA[Kebiasaan Orang Tua Yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak (Part 1)]]>Wed, 20 Mar 2019 08:14:44 GMThttp://hanifaislamicschool.sch.id/smart-parent/kebiasaan-orang-tua-yang-menghasilkan-perilaku-buruk-pada-anak-part-1
Perilaku anak yang sulit diatur dan suka melawan salah satu penyebabnya adalah perilaku orang tua, baik itu disadari mau pun tidak. Mungkin selama ini kita terheran-heran mengapa anak-anak kita sulit diatur dan terkadang suka melawan dan bingung apa penyebabnya. Berikut ini kami mencoba menjelaskan perilaku orang tua yang menjadi faktor penyebab anak sulit diatur dan suka melawan yang dikutip dari sebuah buku “AYAH EDY, Mengapa anak saya suka melawan dan susah diatur”.


​Kebiasaan 1


Raja Yang Tak Pernah Salah

Pada saat anak kita masih kecil dan belajar jalan, terkadang mereka suka menabrak kursi, meja, jatuh di lantai dan lain-lain dan akhirnya menangis. Umumnya, yang dilakukan orang tua untuk memberhentikan tangisan anaknya adalah dengan menyalahkan kursi dan meja yang ditabrak tersebut, terkadang dipukul juga kursinya sambil mengatakan, “Kursinya nakal yah, nih Papah sudah pukul kursinya, sudah nak jangan nangis lagi yah, cup,,,cup,,,cup.” Akhirnya anak pun berhenti menangis.

Ketika kita memukul benda-benda tidak bersalah tadi, sebenarnya kita sedang mengajarkan kepada anak bahwa dia tidak pernah bersalah, walaupun kursi/meja tidak bersalah tetap disalahkan juga. Memang sepertinya sepele, tetapi pola pikir ini akan terbiasa sampai dia tumbuh besar. Akan terbangun pemikiran bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan, benda/ orang lain lah yang bersalah.

Akibatnya, saat terjadi peristiwa di kehidupan anak kita yang berhubungan dengan temannya atau orang lain, maka anak tersebut sulit introspeksi diri / muhasabah dengan anggapan, “bukan aku yang salah, tapi dia yang salah” dampak ini berlanjut sulitnya meminta maaf, tidak mau mengakui kesalahan, dan mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika anak menangis saat terjatuh terkena meja/kursi? Sebaiknya ajarilah anak kita menerima realita dan tanggung jawab atas apa yang menimpa dirinya. “sayang, sakit ya nak? Lain kali hati-hati ya, pelan-pelan saja biar tidak jatuh.” [1]
 
Kebiasaan 2

Berbohong Kecil dan Sering

Sebenarnya anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan dan memperhatikan setiap perkataan kita, bahkan mereka memiliki memori yang baik yang disimpan di otaknya. Mengapa? Karena mereka sepenuhnya percaya dengan ucapan kita. Namun, ketika anak beranjak besar, banyak anak yang tidak percaya lagi dengan kita dan tidak menuruti perintah kita. Apa yang terjadi?

Sebenarnya kesalahan yang tanpa kita sadari adalah kita tidak jarang berbohong kepada mereka. Sebagai contoh adalah ketika sang ayah terburu-buru pergi ke kantor dan si kecil menangis ingin ikut, lalu ayah berucap tanpa pikir panjang, “ayah pergi sebentar ya nak, ayah hanya sebentar kok, nanti pulang ayah belikan mainan yah.” Dan akhirnya sang anak berhenti menangis karena rayuan ayahnya. Kebohongan ditambah dari sang ibu, “iya ayah pergi sebentar ya nak, nanti kalo ayah pulang kita pergi jalan-jalan.” Namun, kenyataanya ayah pulang malam, tidak ada mainan yang dibeli, dan tidak ada acara jalan-jalan. Semua terlupakan begitu saja dan kebohongan ini sering terulang.

Kata-kata dari ayah dan ibu tersebut jika dipenuhi janjinya sebenarnya tidak masalah, tetapi ini akan menjadi masalah ketika janji tersebut dilupakan oleh ayah dan ibunya. Contoh peristiwa di atas sebenarnya memiliki dampak yang besar, anak tidak dapat membedakan perkataan yang jujur dan bohong. Dampak lebih lanjut, anak tidak percaya lagi dengan apapun yang kita katakan dan tidak menuruti setiap ucapan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Berkatalah yang jujur walaupun dihadapan anak kita yang masih kecil. Jelaskan kepada dia,”ayah pergi ke kantor dulu ya nak, pulangnya sore, jadi kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo nanti kita pergi jalan-jalan, kamu boleh ikut.” Jangan kahwatir jika anak menangis ditinggal pergi, ini proses dimana anak akan menerima keadaan ini, bahwa ayahnya berangkat pagi untuk bekerja dan pulangnya sore.

Yang perlu diperhatikan dari orang tua adalah perlu bersabar memberikan pengertian kepada anak dengan alasan-alasan yang seujujurnya tanpa direkayasa. Jika kita jujur kepada anak, maka anak akan mempercayai kita sampai dia beranjak dewasa.[2]

Bersambung...


[1] Edy Wiyono, Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur? (Jakarta : Grasindo, 2008), Hal. 5-6

[2] Edy Wiyono, Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur? (Jakarta : Grasindo, 2008), Hal. 7
]]>
<![CDATA[Anak “Digambar” Oleh Temannya]]>Wed, 20 Mar 2019 08:08:14 GMThttp://hanifaislamicschool.sch.id/smart-parent/anak-digambar-oleh-temannya
​Judul diatas adalah salah satu poin dari tema pembentukan kepribadian anak yang dikutip dari sebuah buku karya Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak.

Akhir-akhir ini Arif malas mengaji ke TPA dan memilih bermain play station bersama temannya. Sementara Syifa yang masih kelas 1 SD meminta kepada bundanya untuk diizinkan nonton sinetron, karena di sekolah banyak temannya yang selalu menceritakan sinetron yang dia tidak pernah saksikan. Fauzan yang tidak pernah meminta uang jajan kini sudah pandai merayu ibunya untuk  membawa uang jajan, gara teman-temannya yang selalu memamerkan jajanan yang mereka beli di sekolah. Dan Ammar yang baru seminggu di rumah neneknya sudah hafal lagu-lagu yang sedang nge-tren di TV, itu karena efek bermain bersama teman-teman yang lebih tua usianya.
Ayah dan ibu dari anak-anak ini mengeluhkan begitu cepatnya pengaruh buruk teman menghilangkan ilmu-ilmu yang susah payah diajarkan oleh orang tua kepada mereka. Semua orang tua memberi pengertian agar tidak terpengaruh perilaku buruk teman-temannya, namun ternyata sang anak justru membela temannya. Semakin ibu memaksa anak menjauhi temannya, semakin kuat pula pembelaan anak kepada teman-temannya.
Sebegitu Kuatkah Pengaruh Teman?

Ternyata memang bukan main-main, pengaruh teman memang sangat serius bagi perkembangan kepribadian anak. Bahkan sampai-sampai Rasulullah Shalallhu’alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam banyak Hadits.

Seseorang itu akan berada pada agama temannya. Oleh karena itu hendaklah salah seorang diantara kamu memperhatikan siapa temannya.”[HR. At-Tirmidzi]

Jauhilah olehmu teman yang buruk. Karena sesungguhnya engkau akan dikenal dengan temannya”[HR. Ibnu Asakir]

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalau tidak, engkau akan mendapatkan bau asap yang tak sedap.”[HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628]

Setelah melewati hari-hari mereka di masa usia balita yang aman dan terlindungi di lingkungan keluarga, setelah usia itu akan tiba saatnya mereka mengenali dunia luar. Dimana mereka menemukan sesuatu yang menarik, aneh, dan hal-hal yang tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka. Disaat masa itu terjadi, kebutuhan mereka terhadap keberadaan seorang teman  sangatlah besar. Mereka ingin mencoba, merasakan, dan terjun ke dunia yang baru mereka lihat. Kemudian setelah mereka membaur bersama teman, mereka mulai meniru, merekam dalam memori otaknya tentang hal-hal yang mereka tidak dapatkan dari orang tuanya. Nah, disaat itulah pengaruh teman begitu besar membentuk prilaku dan kebiasaan mereka.

Jika teman akrab dari anak-anak kita membawa dampak positif sesuai tuntunan agama, itu bagus. Namun, jika teman akrab mereka membawa dampak buruk, ini yang jadi beban pikiran orang tua. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya berperilaku buruk dan tidak ada orang tua yang tidak sakit hati ketika anak membantah nasihat orang tua.
Lantas Apa Yang Harus Diperbuat?

Memberi pengertian ke anak tentang keburukan perilaku teman? Itu harus dilakukan, tapi tidak mudah, secara umum, anak lebih mendewakan temannya. Terlebih jika anak kita sulit dipisahkan dengan teman buruknya. Tetapi orang tua tetap bersabar dalam mengingatkan anak dengan cara yang lembut dan baik.

  1. Sekolah dan Lingkungan Rumah : Prioritas Utama
Orang tua yang memahami betapa besar pengaruh teman untuk kepribadian anak tak main-main dalam urusan ini. Mencari sekolah yang baik, mencari lingkungan tempat bermain yang baik dan mencari teman yang akhlaknya baik untuk bermain.
 
Mengajak anak bersilaturahmi kepada keluarga yang anak-anaknya berakhlak baik. Mengenalkan anak-anak mereka masing-masing agar bisa kenal, lalu akrab, kemudian bermain bersama. Untuk mempererat keakraban mereka, orang tua perlu memberikan fasilitas kepada mereka seperti mainan, snack, belajar bersama, ataupun rekreasi bersama.

  1. Komunikasi Aktif dan Terbuka
Kurang Komunikasi, sering menjadi penyebab kurangnya perhatian orang tua kepada anak. Kendalanya mungkin karena sibuk bekerja atau jarang berada di rumah. Mereka menyangka anaknya baik-baik saja, prilakunya terlihat wajar saja, tetapi baru terkejut ketika mendapat laporan dari guru wali kelas atau kepala sekolah bahwa anaknya suka bicara kotor, membolos, mengganggu teman, melawan guru, dan lain-lain.
 
Anak mungkin saja enggan bercerita tentang teman akrabnya, karena takut dilarang bergaul atau takut dimarahi. Oleh karena itu, orang tua harus membangun komunikasi aktif kepada anak. Kominikasi yang membuat mereka nyaman ngobrol dengan kita, agar mereka mau menceritakan kegiatan-kegiatan apa saja sudah dilakukan bersama teman di sekolah.
 
Catatan penting untuk orang tua, biasakanlah pancing anak untuk menceritakan pengalaman bermain di sekolah, dimulai sejak usia TK. Tanyakan kegiatan sehari-hari mereka bersama teman,  tanyakan tentang perasaan mereka saat bermain. Jika ada sesuatu yang tidak baik dari perilaku teman, beri pengertian kepada anak untuk tidak meniru perilaku tersebut.
 
Lanjutkan komunikasi ini sampai mereka beranjak dewasa. Orang tua harus sediakan waktu untuk ,mendengarkan cerita-cerita mereka, walaupun itu sangat membosankan untuk kita. Hingga ketika mereka dewasa mereka tetap cerita mengenai pengalaman-pengalaman mereka dengan teman-temannya. Namun, disamping itu pula, orang tua harus memberi ilmu-ilmu Syar’i agar mereka memiliki batasan, mana yang baik dan mana yang buruk.
 
  1. Kontrol Secara Diam-Diam
Sesekali, orang tua perlu memeriksa isi lemari dan laci meja belajarnya secara diam-diam. Kita juga perlu tahu apa yang disembunyikan olehnya . Pastikan bahwa mereka tidak mengetahui hal ini. Setiap anak memiliki sesuatu yang dirahasiakan dari orang tuanya.
 
Jika orang tua menemukan barang-barang terlarang di dalam lemari, meja belajar atau di tempat tersembunyi lainnya. Usahakan jangan dulu menegurnya, tapi sindir dia tanpa menyebutkan nama pelaku. Beri pengertian bahwa perbuatan ini dilarang dalam agama. Dan coba perhatikan apakah perilaku buruk tersebut masih ia lakukan di kemudian hari. Hal ini perlu dikontrol secara berkala dan tentu secara diam-diam.
 
  1. Kontrol Lewat Orang Ketiga
Secara fitrah, anak pandai melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Bagi anak yang baik sekalipun, sulit untuk bisa jujur seperti yang diharapkan orang dewasa. Itu sebabnya, informasi dari orang ketiga sangat diperlukan. Bukan karena orang tua tidak percaya kepada anak, namun mendudukan masalah secara objektif perlu adanya sumber terpercaya.
 
Sempatkanlah setidaknya sebulan sekali silaturahmi kepada guru, tanyakan perkembangan anak dan bagaimana pergaulannya dengan teman-temannya. Memantau anak melalui guru di sekolah, guru ngaji, atau tetangga sebelah cukup efektif mengetahui perkembangan anak-anak kita.
 
Di samping itu, orang tua pun perlu belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik yang bisa menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Bukan tidak mungkin, perilaku jelek anak jangan-jangan berasal dari orang tuanya sendiri. Terkadang kita sibuk mencari pendidikan yang terbaik untuk anak, tetapi kita juga lupa bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu muhasabah atau introspeksi diri apakah sudah benar memberikan contoh kepada anak atau masih banyak yang perlu diperbaiki.
]]>